Masalah? Siapa takut?
Kalau biasanya orang silih berganti, datang pergi, ataupun
hilir mudik dalam kehidupan kita. Namun secara tidak sadar ada 'suatu hal' yang
selalu setia menemani. Sejak zaman masih TK, SD, SMP, SMA, hingga duduk di bangku kuliah ia akan selalu setia menemani kita. Namun sering kali
kita malah mengumpatnya, memakinya, membencinya dan berusaha sebisa mungkin
untuk menjauhinya. Padahal karenanyalah kita bisa menjadi semakin dewasa, kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang tegar dan tahan banting.
Ia adalah masalah. Sempat aku tanyakan rasa
kepenasaranku selama ini, ”hey...” singkat aku menyapa, “kenapa kamu masih saja bersikeras bersamaku, padahal selama ini aku ingin sekali berada jauh
darimu?” penuh rasa penasaran aku menanyakanya. Ia diam sebentar sebelum akhirnya menjawab, “karena
aku adalah bagian dari kehidupanmu, aku akan selalu ada bersamamu sepanjang
kamu hidup, bahkan disaat akhir kematianmu pun aku masih akan bersamamu”. Masih
belum puas atas jawabanya, aku bertanya lagi “kenapa, kamu selalu saja memposisikan
dirimu sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan, sehingga semua orang selalu
membencimu, termasuk aku?” Masalah tersenyum tipis, “Wahai anak muda, memang demikianlah aku
diciptakan. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang mampu mengenal baik siapa
aku dan untuk apa aku ada dalam kehidupan mereka”.
Kemudian ia pergi berlalu begitu saja. Hembusan angin segar
menyadarkanku, tanpa sadar aku baru saja menghayal. Sebuah khayalan fiktif, antara pertemuan singkatku dengan yang bernama masalah. Jauh berbeda dengan
persepsiku selama ini terhadapnya. Ia yang selalu saja aku anggap sebagai
hambatan, ia yang selalu aku hindari, bahkan yang aku benci. Ternyata ia begitu
ramah, begitu sopan, dan begitu bijak. Aku lupa, bahwa ia juga di ’ciptakan’
oleh Pencipta yang sama dengan Penciptaku.
“Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengenal baik
diriku” kata-katanya selalu mengiang di ingatan. Begitu dalam makna yang ingin
ia sampaikan. Selama ini ia dikucilkan, usang di tengah penyelesaian yang
instan orang-orang.
Ia sudah hadir dalam hidup setiap bayi, ia menuntunya
hingga bayi itu pun bisa merangkak, berdiri, dan akhirnya bisa berjalan. Ia
hadir pada diri seorang yang takut berenang, sehingga ia menantang orang itu
untuk belajar berenang, dan akhirnya orang itu pun bisa berenang. Ia hadir di tengah-tengah
hubungan pasangan muda-mudi, ia memposisikan diri sebagai biang keladi segala kekacauan yang terjadi. Padahal ia hanya
ingin mencoba seberapa kuat hubungan mereka, ia mengajarkan betapa arti sebuah
kesetian, pengertian dan sikap saling percaya sangat dibutuhkan.
Walaupun banyak juga yang gila karena keberadaan masalah.
Namun bukan berarti masalah itu kejam. Hanya saja orang-orang yang akhirnya gila itu
telah gagal untuk mengenalnya dengan baik, sehingga ia memutuskan untuk
hengkang darinya. Karena hanya dengan menjadi gila lah, seseorang akan terbebas dari masalah.
So, . . .
Jangan sekali-kali menghindar dari masalah, karena
menghindar dari masalah adalah masalah itu sendiri dan tentunya bukanlah sebuah
solusi. Bukan berarti orang yang banyak masalah ia menjadi orang yang
bermasalah, namun karena ia punya masalah ia akan semakin terbiasa dalam 'menyelesaikan' sebuah persoalan, semakin berkembang,
berkembang dan semakin paham lebih dalam arti sebuah kehidupan.
Oh ya, jangan lupa juga janji Allah Swt Fa inna ma'al 'usri yusra. Sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan ...
Percayalah pada Allah SWT, kalau sobat mengaku masih punya iman :D
1 comment for "Masalah? Siapa takut?"