Keraton Kasepuhan Cirebon, Menelusuri Napak Tilas Sang Sunan
Jika Travelling sebelumnya bernuansa alam maka travelling kali ini akan sarat nuansa sejarah. Ya, Keraton Kasepuhan Cirebon, sebuah objek wisata utama di kota Cirebon menjadi Objek Travel selanjutnya.
Setelah sukses mengadakan Seminar pelatihan Falak di Pp, Al Shighor, Cirebon, Senin, 26 Januari 2015. Hari Rabu nya, kami (masih ber-12; Saya, Umam, Ruwaidah, Fitri, Khozin, Nofran, Misbah, Risya, Rizal, May, Ishom, Jafar) memilih untuk berwisata sebelum akhirnya kembali pulang ke Semarang. Diantara tujuanya adalah: Ziarah Makam Sunan Gunung Jati, Masjid Agung Cirebon, dan Keraton Kasepuhan Cirebon.
Pertama kalinya adalah Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati. Tidak afdhol rasanya jika berada di Cirebon namun tidak menyempatkan diri berziarah ke salah satu makam Walisongo ini. Di komplek makam Sunan Gunung Jati banyak berjejer para penjual, rata-rata menjajakan cinderamata dan jajanan khas Kota Cirebon. Dijajakan pula kaos-kaos yang ada tulisanya Cirebon atau Sunan Gunung Jati seperti di tempat-tempat wisata pada umumnya, harganya beragam mulai Rp.35.000 sampai Rp.65.000. Ketika hendak masuk ke makam, jangan kaget jika banyak 'peminta' shodaqoh yang menghadang, bahkan terkadang mereka juga terkesan sedikit memaksa, bagi saya hal ini adalah mengganggu.
Setelah berziarah, perjalanan berlanjut ke Keraton Kasepuhan Cirebon. Dari Makam Sunan Gunung jati ke keraton sekitar 15 menit menggunakan mobil. Berdekatan dengan lokasi Keraton ini juga terdapat masjid Agung dan alun-alun. Lokasi ini juga berada tidak jauh dari terminal Cirebon. Setelah sampai kami memilih untuk solat dulu di Masjid Agung Cirebon. Masjid ini pun terbilang unik, dari luar hanya akan terlihat atapnya yang menjulang, massjidnya terkesan ceper. Namun ketika masuk anda akan mendapati ke khasan dari masjid ini, ornamen-ornamenya hampir keseluruhan terdiri dari Bata dan Kayu. Konon pasak-pasak kayu yang ada di Masjid ini tidak dipaku, dan Bata-batanya juga tidak di semen. Karena menurut sejarahnya Masjid Agung Cirebon ini dibangun oleh para Wali pada Zamanya yakni pada tahun 1422 Saka atau 1500 Masehi,
Selesei solat, perjalanan berlanjut ke Keraton Kasepuhan Cirebon yang letaknya tidak jauh dari Masjid. Tiket masuk keraton per Januari 2015, Rp. 10.000 @Orang. Di kompleks keraton juga terdapat museum-museum yang berisi benda-benda peninggalan kerajaan, benda-benda pusaka, dan lukisan-lukisan. Di dalam komplek keraton juga ada sebuah ruangan yang dulunya digunakan sebagai tempat petilasan atau semedi oleh Sunan Gunung Jati, ketika memasuki ruangan tersebut pengunjung tidak diperbolehkan merokok dan diminta untuk melepas alas kaki. Sedangkan bagi kaum hawa atau wanita tidak diperkenankan masuk ke area petilasan ini.
Ketika memasuki salah satu museum, ada satu lukisan yang menarik menurut saya, sehingga membuat saya tak henti-henti untuk terus mengamatinya, yakni lukisan Prabu Siliwangi yang tersimpan di museum Singabarong. Hal menarik dalam lukisan ini adalah mata Prabu Siliwangi yang akan terus menatap anda, meskipun anda berjalan ke kanan atau ke kiri mata Prabu Siliwangi dalam lukisan tersebut akan mengikuti seiring pergerakan anda. #Ajib bukan? :)
Berikut Liputan Fotonya:
#Makan Sunan Gunung Jati #Masjid Agung Cirebon #Keraton Kasepuhan Cirebon:
Setelah sukses mengadakan Seminar pelatihan Falak di Pp, Al Shighor, Cirebon, Senin, 26 Januari 2015. Hari Rabu nya, kami (masih ber-12; Saya, Umam, Ruwaidah, Fitri, Khozin, Nofran, Misbah, Risya, Rizal, May, Ishom, Jafar) memilih untuk berwisata sebelum akhirnya kembali pulang ke Semarang. Diantara tujuanya adalah: Ziarah Makam Sunan Gunung Jati, Masjid Agung Cirebon, dan Keraton Kasepuhan Cirebon.
Pertama kalinya adalah Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati. Tidak afdhol rasanya jika berada di Cirebon namun tidak menyempatkan diri berziarah ke salah satu makam Walisongo ini. Di komplek makam Sunan Gunung Jati banyak berjejer para penjual, rata-rata menjajakan cinderamata dan jajanan khas Kota Cirebon. Dijajakan pula kaos-kaos yang ada tulisanya Cirebon atau Sunan Gunung Jati seperti di tempat-tempat wisata pada umumnya, harganya beragam mulai Rp.35.000 sampai Rp.65.000. Ketika hendak masuk ke makam, jangan kaget jika banyak 'peminta' shodaqoh yang menghadang, bahkan terkadang mereka juga terkesan sedikit memaksa, bagi saya hal ini adalah mengganggu.
Setelah berziarah, perjalanan berlanjut ke Keraton Kasepuhan Cirebon. Dari Makam Sunan Gunung jati ke keraton sekitar 15 menit menggunakan mobil. Berdekatan dengan lokasi Keraton ini juga terdapat masjid Agung dan alun-alun. Lokasi ini juga berada tidak jauh dari terminal Cirebon. Setelah sampai kami memilih untuk solat dulu di Masjid Agung Cirebon. Masjid ini pun terbilang unik, dari luar hanya akan terlihat atapnya yang menjulang, massjidnya terkesan ceper. Namun ketika masuk anda akan mendapati ke khasan dari masjid ini, ornamen-ornamenya hampir keseluruhan terdiri dari Bata dan Kayu. Konon pasak-pasak kayu yang ada di Masjid ini tidak dipaku, dan Bata-batanya juga tidak di semen. Karena menurut sejarahnya Masjid Agung Cirebon ini dibangun oleh para Wali pada Zamanya yakni pada tahun 1422 Saka atau 1500 Masehi,
Selesei solat, perjalanan berlanjut ke Keraton Kasepuhan Cirebon yang letaknya tidak jauh dari Masjid. Tiket masuk keraton per Januari 2015, Rp. 10.000 @Orang. Di kompleks keraton juga terdapat museum-museum yang berisi benda-benda peninggalan kerajaan, benda-benda pusaka, dan lukisan-lukisan. Di dalam komplek keraton juga ada sebuah ruangan yang dulunya digunakan sebagai tempat petilasan atau semedi oleh Sunan Gunung Jati, ketika memasuki ruangan tersebut pengunjung tidak diperbolehkan merokok dan diminta untuk melepas alas kaki. Sedangkan bagi kaum hawa atau wanita tidak diperkenankan masuk ke area petilasan ini.
Ketika memasuki salah satu museum, ada satu lukisan yang menarik menurut saya, sehingga membuat saya tak henti-henti untuk terus mengamatinya, yakni lukisan Prabu Siliwangi yang tersimpan di museum Singabarong. Hal menarik dalam lukisan ini adalah mata Prabu Siliwangi yang akan terus menatap anda, meskipun anda berjalan ke kanan atau ke kiri mata Prabu Siliwangi dalam lukisan tersebut akan mengikuti seiring pergerakan anda. #Ajib bukan? :)
Berikut Liputan Fotonya:
#Makan Sunan Gunung Jati #Masjid Agung Cirebon #Keraton Kasepuhan Cirebon:
![]() |
| Berpose di depan Keraton Kasepuhan. |
| Inilah Lukisan Prabu Siliwangi yang Ajib itu. |


Post a Comment for "Keraton Kasepuhan Cirebon, Menelusuri Napak Tilas Sang Sunan"
Post a Comment