Disaat yang Tua Menghilang, Kaum Muda Datang untuk Menggantikan
Oke, kembali berjumpa lagi dengan tulisan saya. Kali ini tulisan saya berjudul, "Disaat yang Tua Menghilang, Kaum Muda datang untuk Menggantikan". Tulisan ini sebenarnya saya bikin sebagai syarat untuk ikut Workshop Penelitian yang diadakan BEM FITK UIN Walisongo Semarang pada 8-9 Nopember 2014. Kayaknya pamflet yang di sebelah ini uda direfisi deh, soalnya disitu tertulis 1-2 Nopember.
Karena pas bikinya kok kebetulan bebarengan dengan ujian Kampus (Ujian Lab Falak I) jadi ya nulisnya nyuri-nyuri waktu aja. Karena bagaimanapun bagi saya, akademik tetaplah harus jadi prioritas utama. #Sok .. :D
Karena pas bikinya kok kebetulan bebarengan dengan ujian Kampus (Ujian Lab Falak I) jadi ya nulisnya nyuri-nyuri waktu aja. Karena bagaimanapun bagi saya, akademik tetaplah harus jadi prioritas utama. #Sok .. :D
Meski begitu, ya semoga tulisan ini bisa memberi manfaat, setidaknya bisa menambah wawasan sobat. Atau kalau tidak apa yang saya pikirkan dalam tulisan ini ternyata sama juga dengan apa yang sobat pikirkan. Indahnya berbagi,.. Met baca :)
Disaat yang Tua Menghilang, Kaum Muda Datang untuk Menggantikan
Indonesia
adalah sebuah negara besar, sebuah negara dengan jumlah penduduk Muslim
terbesar di dunia. Prestasi Indonesia tidak hanya berhenti disitu, Indonesia
juga terdapuk menjadi negara peringkat ke-4 dengan jumlah penduduk terbesar di
dunia, sebagaimana yang pernah diberitakan oleh detik com pada tahun 2014 jumlah penduduk Indonesia mencapai angka
253,60 juta. Satu peringkat dibawah Amerika
Serikat dengan jumlah penduduk 318.89 Juta Jiwa. Tetangga kita yakni Malaysia
berada jauh di urutan ke-43 dengan jumlah penduduk sebesar 30,07 juta jiwa.
Sebuah bangsa yang besar Indonesia sangat
berpotensi untuk menjadi bangsa yang maju. Maju dalam hal peradaban maupun
dalam bidang keilmuan. Meski demikian sampai sekarang Indonesia masih tetap
berhenti pada status sebagai negara berkembang. Kenyataan inilah yang menjadi
PR kita bersama, PR bagi seluruh rakyat Indonesia. Dimana konsep kehidupan
serta konsep nalar berpikir perlu di’remajakan’ kembali. Selama ini masyarakat
kita sudah terlanjur di’nina bobokkan’ dengan hal-hal instan. Masyarakat kita
lebih suka terima jadi, daripada harus repot-repot memikirkan kembali ‘kenapa
bisa begitu?’, “itu diperoleh dari mana?” dan lain sebagainya yang mana
membutuhkan sebuah jalan pikir yang tak pendek. Konsep berpikir ‘terima jadi’
inilah yang menjadikan pola berpikir masyarakat kita stagnan, ajeg tak
berkembang.
Dalam menyikapi sebuah kejadian maupun fenomena
masih banyak masyarakat yang acuh tak acuh, lebih memilih menunggu kabar berita
jadi sembari ngeteh ataupun minum kopi. Masyarakat kita memang masih belum
terbiasa dengan pola berpikir kritis. Padahal dengan berpikir kritis atau
minimal beranjak dari rasa keingin tahuan bisa membawa kepada sebuah pengetahuan
baru yang nantinya bisa bermanfaat bagi orang banyak.
Dalam hal ini kawula
muda bangsa ini yang memiliki tanggung jawab besar, peran peneliti muda
sangatlah ditunggu-tunggu kontribusinya demi pembangunan bangsa. Karena dengan penelitian
secara langsung melatih pola pikir menjadi kritis dan tanggap terhadap segala
sesuatu yang terjadi disekeliling. Banyak peristiwa-peristiwa yang janggal
terlewatkan begitu saja, luput dari perhatian karena masyarakat kita masih
banyak yang tidak peka, ataupun tahu tapi malas untuk lebih dalam lagi mencari tahu.
Lebih-labih untuk para cendikiawan muda dan para
akademisi kampus. Kemampuan dalam hal penelitian seharusnya menjadi skill
primer masing-masing pribadi. Akan tetapi fenomena yang sering kita jumpai
sekarang, para mahasiswa lebih cenderung berpangku tangan menerima pelajaran,
pasif. Padahal sikap pro aktif dan tanggap menyikapi suatu persoalan sangat
dibutuhkan dalam hal penelitian. Dengan meneliti mahasiswa ataupun kaum muda,
akan menciptakan sebuah pengetahuan baru. Sebuah informasi segar yang menarik
untuk diketahui.
Peneliti mudalah yang nantinya akan mengubah
takdir bumi Indonesia ini, para cendekiawan muda yang nantinya menentukan nasib
bangsa Indonesia ke depan. Disaat perguliran era, disaat yang tua satu persatu
mulai hengkang, saat itu pula bibit-bibit muda datang, ikut menyokong
pembangunan bangsa. Membawa semangat baru dengan pemikiran yang baru pula.
Selama ini, di Indonesia khususnya, rekor-rekor
maupun prestasi yang berhasil ditorehkan kebanyakan bersifat kuantitatif, bukan
kualitatif. Rekor membakar sate terpanjang, rekor kain batik terpanjang dan
semacamnya lebih sering terdengar di telinga daripada prestasi-prestasi yang
bersifat kualitatif. Ini dikarenakan lebih mudah mencetak prestasi yang
bersifat kuantitatif daripada kualitatif.
Peran peneliti muda juga nantinya yang akan
menjadikan bangsa Indonesia semakin mandiri, karena tak perlu lagi mengimpor
pengetahuan dari bangsa lain. Syukur-syukur bisa menjadi rujukan bangsa lain.
Tentu hal ini akan mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia. Objek yang
bisa diteliti amat luas, tidak hanya terfokus dalam satu kajian. Kaum muda bisa
memilih untuk meneliti dibidang mana yang ia inginkan. Lebih bagus lagi jika
meneliti suatu bidang kajian, yang memang menjadi keahliannya. Semisal kajian;
sosial, hukum, keagamaan, dan lain sebagainya.
Sikap kritis dan tanggap terhadap sesuatu
seharusnya sudah mulai ditumbuhkan semasa masih duduk di bangku sekolah. Ketika
sudah duduk di bangku kuliah, sikap kritis dan tanggap ini sudah seharusnya
dijadikan sebagai idealisme mahasiswa. Karena merekalah, para agen of cange and control. Kaum
pesantren (santri) kiranya juga perlu untuk diajak berpikir kritis. Karena adat
pembelajaran pesantren cenderung text
book, terlalu terpaku pada texk (kitab kuning), dan juga teacher centered, guru ataupun ustadz
selalu menjadi pusat ilmu. Padahal
slogan, “guru mengaji santri mengacungkan jari”, perlu dibudayakan. Supaya
terjadi hubungan dialogis didalamnya. Sehingga
kaum muda baik kalangan akademisi kampus maupun kaum sarungan (baca: santri)
bisa bersama-sama berkontribusi untuk kemajuan bangsa ini.
Post a Comment for "Disaat yang Tua Menghilang, Kaum Muda Datang untuk Menggantikan"
Post a Comment