Aku Memilih Islamku


Agama menurut Kamus besar bahasa Indonesia adalah system yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan  Yang Maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkunganya. Permasalahan agama sangat berkaitan erat dengan ‘aqidah atau keimanan ataupun ketuhanan yang mana  merupakan  suatu permasalahan klasik yang masih eksis di zaman yang sudah serba modern ini, di mana terdapat berbagai macam paham yang sebenarnya agak ‘lucu’. Di antaranya timbulnya pemikiran-pemikiran ‘liar’. haruskah kita beragama? Atau dengan bahasa lain haruskah kita bertuhan?

Sejarah dan realita telah menunjukkan kepada kita betapa  sangat ketergantunganya manusia dengan hal-hal yang bersifat supranatural akan ‘sesuatu’  yang  mereka anggap serta yakini memiliki kekuatan di luar kekuatan manusia. Mereka sembah-sembah, puja-puja dan minta-minta kepadanya, tak peduli apakah itu masuk akal atau tidak, apakah Ia benar-benar mampu ‘memenuhi’ ataupun tidak. Jika kita mencoba  berkeliling ke daerah-daerah  atau bahkan ke belahan  dunia, kita akan menemui berbagai macam agama atau semacam agama apapun bentuknya. Ada yang bertuhankan kepada nenek moyangnya, bertuhan kepada patung, bertuhan kepada hewan yang di anggap suci hingga bertuhann kepada penghuni pohon. Semua itu menunjukkan bahwa dari zaman dahulu sampai zaman sekarang manusia mengakui akan adanya kekuatan-kekuatan supranatural yang berada jauh di luar kuasa manusia, walaupun memang  terdapat segolongan orang yang menafikan tentang adanya tuhan sebut saja sebagaimana orang-orang atheis. Mereka tidak percaya tentang adanya tuhan. Mereka berkeyakina bahwa semua kejadian-kejadian yang terjadi adalah bagian dari hukum alam. Alam sendiri pun terjadi bukan karena terjadi dengan sendirinya atau dengan kata lain sebuah kebetulan belaka, melainkan alam sudah di ciptakan dan di atur sedemikian rupa oleh pengeran kang nduweni jagad (Tuhan).

Kembali kepada permasalahan, haruskah kita beragama? Maka jawabanya: ya! Kenapa??? Karena sudah jelas bahwasanya manusia adalah makhluk yang lemah banyak sekali pekerjaan yang tak mampu ia kerjakan, banyak sekali pula kejadian yang tak dapat ia elakkan, oleh karenanya ia pasti butuh terhadap kekuatan ‘sesuatu’ yang dapat memenuhi segala kebutuhan, yang dapat memberi pertolongan kapanpun ia butuhkan, yang dapat menjadi tempat curhat kapanpun ia inginkan.

Orang yang merasa mempunyai Tuhan kemana pun ia pergi, dalam keadaan bagaimanapun ia berada, ia akan merasa tenang karena ia sudah punya backing yang begitu Maha. Berbeda dengan mereka yang memilih untuk tak bertuhan (atheis) , bisa dibilang hidupnya di dunia ini akan klontang-klantung bak domba yang tak tau kemana jalan ia akan berpulang mengingat hidup di dunia yang sifatnya sementera ini merupakan proses untuk menuju kehidupan yang kekal abadi yaitu akhirat..

 Permasalahan selanjutnya yaitu, kepada siapakah  aku bertuhan? Sebelumnya Yang jadi permasalahan di sini adalah arti dari pada Tuhan itu sendiri, karena setiap agama mempunyai tafsiran sendiri-sendiri tentang maksud Tuhan sesuai dengan keyakinan mereka  masing-masing. Sebagaimana umat Islam meyakini Tuhan Allah SWT, umat Kristen meyakini Yesus sebagai Tuhanya, umat hindu yang lebih memilih patung-patung dan arca-arca untuk mereka sembah. Sebagai penggambaran akal manusia atau rasio manusia dalam memilih ‘sesuatu’ pastilah  akan memilih ‘sesuatu’ yang memang paling terbaik untuknya yang memang paling benar adanya, lebih-lebih ‘sesuatu’ itu adalah untuk dijadikan sebagai pusat orientasi kehidupan. Tentunya Ia harus merupakan ‘sesuatu’ yang satu (esa), yang tidak butuh kepada siapa-siapa, yang sama sekali tiada yang menyerupai  dengaNya, dan tak bersifat materi. Maka sangat ironis dan sayang memang jika bisa dengan sepelenya seseorang memilih Tuhan  hanya dengan barang-barang yang bisa di katakana sepele bersifat ke bendaan atau materi. Misal Azimat, Patung, ataupun yang lainya sekiranya yang ia sembah-sembah dan ia minta-minta terhadapnya.
Bukankah di akal pun hal itu tak  masuk akal? Aku meminta pastinya kepada ‘sesuatu’ yang bisa memenuhi permintaan kita dan seterusnya. lantas kenapa aku harus ber Tuhan terhadap  ‘sesuatu’ yang ia sendiripun  butuh pertolonganku? Bukankah semestinya Tuhan yang menolongku? Dan kenapa harus ber Tuhan kepada ‘sesuatu’ yang memanfaatkan aku? Bukankan seharusnya Tuhan yang memberi  manfaat kepadaku? Walaupun apa yang aku ‘sembahkan’ kepadaNya tak sedikitpun berpengaruh terhadapnya sama sekali Laa yanfa’uhu tho’atuka walaa yadlurruhu ma’shiyatuka (taat mu pada tuhanmu sama sekali tidak memberikan manfaat terhadapNya, dan Maksiyatmu terhadapNya pun tak ada pengaruh sama sekali terhadapnya) .

Lantas mana Agama yang yang harus aku ikuti? Atau Tuhan yang harus aku imani? Ternyata Allah Swt sendiri  telah memberi tahu kepadaku lewat firmanya dalam Al Qur’an , yang berbunyi “Innaddiina ‘indallaahil islaam…” (QS. Ali Imron:19) , yang artinya “sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah islam…”.Agama Islam sendiri tidaklah hanya turun di zaman Rasul Muhammad SAW saja, melainkan sejak zaman pertama kali ada manusia, Allah SWT telah menamakan agamaNya sebagai Islam. Sebagaimana yang telah di sebutkan dalam QS.Al Baqarah:32, yang artinya:”Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya,demikian pula Ya’qub.(Ibrahim berkata):”Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk Islam”. Dari penjelasan ayat tersebut dapat kita pahami bahwa Nabi Ibrahim pun sudah menyebutnya sebagai Agama Islam, padahal sebagaimana yang telah kita ketahui dari keturunan Nabi Ibrahim inilah yang menurunkan Agama-agama besar yang sekarang kita kenal, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Semua itu sebenarnya hanya berasal dari satu agama yang haq (benar) yaitu agama Islam.

Sampai sini mungkin sudah jelas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, kepada Tuhan siapakah yang harus aku imani? Agama manakah yang harus aku ikuti? jawabanya adalah Allahu Rabby wa al Islamu diiny (Allah tuhanku, dan Islam adalah Agamaku).


Post a Comment for "Aku Memilih Islamku"